MitraKPK.com

Copyright © mitrakpk.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Fico, Investasi Detek Pencucian Uang dalam Teknologi Kepatuhan

Jakarta - Mayoritas bank (93%) di Asia Pasifik ingin menghabiskan anggaran belanja teknologi untuk memperbarui atau meningkatkan sistem kepatuhan regulasi.

Namun, di pusat-pusat keuangan regional yakni Singapura dan Hong Kong, hanya dua per tiga responden yang menunjukkan minat bank nya untuk melakukan investasi baru dalam teknologi kepatuhan.

Hal ini tampaknya disebabkan biaya besar yang telah dikeluarkan bank tersebut dalam bidang tersebut selama beberapa tahun terakhir.

Secara keseluruhan, tingkat investasi dalam teknologi kepatuhan yang dilakukan berbagai bank di Asia Pasifik segera meningkat pada 2021.

Sebanyak 49 persen responden menyebutkan anggaran mereka akan bertambah, sementara, 34 persen responden lain memperkirakan peningkatan anggaran yang signifikan.

Menariknya, bank-bank asing lebih cenderung untuk melakukan investasi baru ketimbang bank-bank domestik. Indonesia, Australia, Thailand, dan Filipina termasuk sejumlah pasar yang kelak menjalankan investasi terbesar pada 2021.

"Survei ini, digelar pada Mei lalu, menunjukkan bahwa di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi, bank-bank masih ingin berinvestasi guna meningkatkan sistem kepatuhan APU," kata Choon.

 

"Mereka semakin beranggapan bahwa aspek kepatuhan dan tindak penipuan termasuk risiko kejahatan keuangan yang biasa dihadapi. Para pelaku pelaku penipuan lebih cenderung melakukan pencucian uang, dan begitu pula sebaliknya.

"Konvergensi tersebut menjadi tren global. Berbagai bank di Amerika Serikat dan Inggris telah sepenuhnya mengintegrasikan fungsi-fungsi kepatuhan regulasi dan pencegahan aksi peniupan, serta menyatukan sejumlah tim, pemimpin, dan teknologi. Kami percaya bahwa bank-bank di Asia Pasifik juga mengamati kedua negara ini untuk mempelajari efektivitasnya, dan segera mengikuti langkah serupa dalam 24-36 mendatang."

Survei Kepatuhan APU Terpadu (Integrated AML Compliance Survey) FICO diadakan pada Mei 2020. Survei ini berlangsung lewat internet dan melibatkan 256 eksekutif senior dalam jajak pendapat kuantitatif. 

Para responden berasal dari berbagai bank di 11 negara. FICO menugaskan sebuah perusahaan riset independen untuk melakukan survei ini. Negara-negara yang disurvei ialah Australia, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

FICO (NYSE: FICO) sendiri adalah perusahaan yang membantu pengambilan keputusan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelaku usaha di seluruh dunia.

Berdiri pada 1956 dan berbasis di Silicon Valley, FICO tampil sebagai pelopor predictive analytics dan ilmu data yang meningkatkan keputusan operasional. FICO memiliki lebih dari 95 hak paten teknologi di Amerika Serikat dan luar negeri.

 

Sederet teknologi ini menambah tingkat keuntungan, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan bisnis di sektor jasa keuangan, manufaktur, telekomunikasi, kesehatan, ritel, dan berbagai industri lain.

Dengan solusi-solusi FICO, berbagai pelaku usaha di 100 lebih negara melakukan banyak hal, dari melindungi 2,6 miliar kartu pembayaran dari aksi penipuan, hingga membantu masyarakat untuk memperoleh pinjaman, serta memastikan jutaan pesawat terbang dan mobil sewaan berada di tempat dan waktu yang semestinya.

Informasi lebih lanjut: Silahkan klik tautan berikut : www.fico.com Informasi lebih lanjut tersedia di  www.fico.com. Bergabung dalam diskusi di Twitter lewat akun @FICOnews_APAC.

BERITA TERKAIT